Mendidik Tanpa Sogokan, Mengajarkan Anak Arti Anti Korupsi

“Adek kalo makannya abis nanti Mama beliin es krim deh.”

“Kakak kalau berani maju ke panggung nanti pulangnya boleh beli mainan.”

Merasa familiar dengan kalimat-kalimat di atas?

Kalimat-kalimat tsb adalah dua dari sekian banyak contoh kalimat yang sering digunakan orangtua sebagai ‘senjata’ untuk menyemangati anaknya, mendorong buah hatinya melakukan sesuatu yang awalnya enggan si anak lakukan. Sayangnya kalimat-kalimat tsb justru memberikan dampak buruk bagi kehidupan anak ke depannya.

Sogokan.

Siapa yang menyangka kalimat-kalimat di atas merupakan bentuk ‘suap’ yang orangtua berikan kepada anaknya sejak dini. Padahal yang anak butuhkan ketika menghadapi sesuatu yang menakutkan adalah dukungan orangtua, bukan sekedar sogokan berupa iming-iming hadiah semata. Ketika anak takut maju ke atas panggung, seharusnya orangtua ada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Memahami dulu apa yang menyebabkan anak takut, sehingga bisa memberikan dukungan dengan tepat. Contoh dengan kalimat , “Oh iya naik ke panggung memang bikin deg-degan. Dulu Mama juga begitu, tapi akhirnya Mama tetap naik panggung, ternyata pas udah di atas ga menakutkan kok.”

Sebagai orangtua tentunya kita ingin anak-anak mematuhi aturan dan disiplin karena memang memahami esensi dari aturan tersebut. Kenapa setiap berkendara kita harus patuh lalu lintas? Karena aturan lalu lintas dibuat untuk keselamatan kita dan pegendara lain. Bukan karena ada dan tidaknya polisi yang sedang patroli. Anak-anak yang menyaksikan orang tuanya membayar ‘denda’ di jalan ketika menerobos rambu lalu lintas akan belajar bahwa segala persoalan bisa selesai hanya dengan memberikan sejumlah uang kepada petugas. Anak tidak lagi fokus kepada kepentingan pengedara lain, yang penting dirinya aman dan terbebas dari hukum.

Saya sendiri dulunya juga sering membujuk Rey dengan iming-iming hal yang menarik, seperti ketika membujuk Rey untuk sikat gigi sebelum tidur. Biasanya Rey akan merengek atau melancarkan aksi tutup mulut ketika harus sikat gigi sebelum tidur. Karena saya merasa bingung dan kesal, biasanya saya akan ‘menyogok’ dia dengan iming-iming “Kalo Rey mau sikat gigi, nanti ayah beliiin mainan Robocar Poli lagi.” Padahal tidak ada hubungannya menyikat gigi sebelum tidur dengan membeli mainan. Hal yang seperti inilah yang membuat anak lebih berfokus ke faktor eksternal, yaitu membeli mainan dari pada manfaat dari menyikat gigi sebelum tidur.

Tapi akhirnya saya sadar yang saya lakukan ini salah dan bisa dikatakan fatal. Karena saya mengajari sogok-menyogok kepada anak saya sendiri sedari kecil. Akhirnya saya mengubah kalimat saya dengan alasan yang masuk akal ketika Rey menolak menyikat gigi di malam hari dengan kalimat “Rey kalo kita ga sikat gigi, nanti malem-malem pas Rey bobo masih ada sisa makanan di gigi Rey. Nah sisa makanan itu bisa bikin gigi Rey rusak, tahu kan gigi rusak yang kita liat di youtube kemarin? Rey ga mau kan giginya begitu? Nanti sakit dan tidak bisa makan.” Dengan cara itu, walaupun hasilnya sama-sama Rey mau menyikat gigi, hal yang dipahami akan berbeda. Rey akan sadar menyikat gigi penting untuk kesehatan giginya sendiri, bukan sekedar menuruti Ibu agar aku bisa beli mainan.

Saya yakin tidak ada orangtua yang secara sengaja mengajarkan sogok-menyogok kepada anaknya sejak dini. Mereka pasti ingin anaknya bersikap disiplin, berani dan taat aturan, hanya saja caranya kurang tepat. Seperti contoh menyikat gigi tadi, mungkin dua-duanya tujuannya sama yaitu anak menyikat gigi sebelum tidur sehingga giginya bersih dan tidak sakit. Tapi ternyata bagi anak cara pertama dan kedua tadi sangat berbeda maknanya. Padahal menumbuhkan kepuasan dari diri anak ini jauh lebih penting. Merasa giginya bersih dan mulutnya segar sebelum tidur juga bisa menjadi kepuasan tersendiri untuk anak. Atau contoh ketika anak takut naik ke atas panggung, padahal setelah si anak berhasil menari di atas panggung dan disambut riuh tepuk tangan penonton akan menjadi hal yang menyenangkan bagi anak. Sayang sekali jika kepuasan internal itu kita rusak dengan faktor eksternal seperti iming-iming mainan dsb.

Membayangkan ketika mereka tumbuh dewasa dengan lingkungan yang kental dengan sogokan, lalu kemudian kita sibuk meneriakan berantas korupsi padahal kita sendiri lupa dalam sehari-hari kita turut andil mendidik anak-anak dengan sogokan. Anak-anak yang diajarkan dengan sogokan dan paksaan, akan terbiasa memanipulasi dan memikirkan dirinya sendiri.  Tugas kita sebagai orangtua adalah menyemangati, memberikan dukungan yang tepat untuk anak. Bukan merusaknya dengan memberikan banyak shortcut agar anak terpacu semangatnya, padahal bukan itu tujuannya.

Yuk mama kita coba ingat-ingat kira-kira kalimat apa yang kurang tepat yang kita gunakan ketika berkomunikasi dengan anak sehari-hari. Apakah kita masih mengiming-imingi boleh makan permen jika anak menghabiskan makan siangnya? Ataukah kita masih mengiming-imingi hadiah mainan baru jika anak mau sholat? Masih banyak kesempatan untuk memperbaiki cara-cara yang masih kurang tepat untuk mendisiplinkan anak, agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang lebih baik lagi.

note : Artikel ini juga diterbitkan di web The Urban Mama, dan menjadi Pemenang dari TUM’s Editor’s Choice of The Month untuk periode Desember 2017.

One thought on “Mendidik Tanpa Sogokan, Mengajarkan Anak Arti Anti Korupsi

  1. bemzkyyeye says:

    eike ga memberlakukan sogokan dirumah. Anak2 tau banget emaknya anti sogokan hahaha.
    Emang harus dr awal yah diajarin biar anak2 inshaa Allah tumbuh menjadi pribadi yang baik. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s