Anakku Kurang Suka Bermain Puzzle

Kenapa ya dia ga suka main puzzle?

Bukannya di usia ini harusnya dia suka main puzzle?

Apa ada yang salah dengan perkembangan kecerdasannya ya?

Kira-kira begitulah pertanyaan yang terbersit *halah*  melihat Rey yang malas-malasan bermain puzzle. Padahal menurutku puzzle yang dia punya lumayan menarik baik dari segi bentuk dan warnanya. Apalagi beberapa temen bilang anaknya suka banget main puzzle, bahkan uda sampai ke level ruwet tingkat dewa puzzle-nya pun anaknya mau mainin. Aku jadi ciyut. Kemudian ku bingung, lalu ku cari-cari info yang malah berakhir berjam-jam kepoin akun gosip *duh*.

Asli rada pusing juga, apalagi membandingkan dia dengan temennya atau sepupunya *nah kan* *tipikal emak emak jaman now* *kompetitip!*.

Oke. sebenernya ini cerita flashback *dijelasin*.

Jadi sekitar 4 bulan lalu  aku dijadwalin sama Aunty Dhiesta dan Aunty Tita buat konseling terkait tumbuh kembang Rey. Seneng banget akhirnya konseling juga. Soalnya aku paling jarang jemput Rey, ataupun kalo jemput di daycare uda sepi, guru Rey uda pulang :(.  Aku bolak-balik ngecekin KPSP tapi kok galau takut hasil Rey sehari-hari ga valid, secara lebih lama sama Aunty sama Nannies ketimbang sama aku. Jadi paling bener emang konseling lah.

Ada beberapa aspek yang disoroti oleh Aunty Tita selaku guru Rey, yaitu motorik kasar dan motorik halus, kemampuan kognitif dan kemampuan bersosialisasi. Hasilnya sih alhamdulillah semuanya masih sesuai fase tumbuh kembang yang seharusnya. Dari beberapa aspek yang diamati, aku kemudian nanya masalah Rey yang ga terlalu suka sama puzzle atau mainan susun balok. Aku berharap jawabannya aunties sama nannies bakal beda. Aku ngarep mereka bilang kalo Rey suka banget permainan itu ketika di daycare, emang halu abis emaknya 😆 . Ternyata mereka juga meng-iya-kan ketidak sukaan Rey akan permainan puzzle, susun balok dan yang sejenisnya. Ciyut lagi deh aku.

image from here

Kemudian aku nanya, apa itu mempengaruhi perkembangan kecerdasannya? Kan konon katanya anak yang suka main puzzle itu pasti pinter. Ternyata menurut aunty Tita hal tersebut bisa juga benar namun tidak sepenuhnya benar. Bisa saja anak yang suka puzzle itu adalah anak yang pintar, tapi tidak berlaku sebaliknya. Tidak ada yang bisa memastikan anak yang suka bermain catur adalah anak yang lebih cerdas dari anak yang suka bermain basket. Itu hanya masalah preferensi permainan saja.

Kemudian obrolan berlanjut ke jenis-jenis kecerdasan anak, yang ternyata ada 8 jenis. Dan puzzle bukan satu-satunya indikator anak cerdas atau bukan. Jadi menurut Dr. Howard Gardner, Profesor bidang pendidikan di Harvard University, Amerika, ada 8 tipe kecerdasan pada anak, dimana setiap anak bisa saja memiliki lebih dari satu ada sangat menonjol ada juga yang biasa saja kadar kecerdasannya. Delapan kecerdasan tsb adalah :

1. Kecerdasan Linguistik (Word Smart)
2. Kecerdasan Logika-Matematika (Number Smart)
3. Kecerdasan Visual-Spasial (Picture Smart)
4. Kecerdasan Musikal (Music Smart)
5. Kecerdasan Gerak Tubuh (Body Smart)
6. Kecerdasan Interpersonal (People  Smart)
7. Kecerdasan Intrapersonal (Self Smart).
8. Kecerdasan Naturalis (Nature Smart)

Nah, anak yang sejak kecil suka bermain puzzle ini masuk kategori anak yang memiliki kecerdasan Visual-Spasial (Picture Smart). Kecerdasan ini melibatkan kepekaan mengobservasi dan kemampuan  berpikir dalam gambar. Kecerdasan ini memungkinkan anak membayangkan bentuk-bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah. Biasanya, anak menyukai kegiatan bermain puzzle, menggambar, bermain balok, mencari jalan paling tepat.

Sedangkan yang namanya 8 kecerdasan ini pada setiap anak tidak langsung serta merta nonjol ke delapan-depalannya. Menurut Aunty dan Nannies, Rey bukannya sama sekali tidak bisa bermain puzzle ataupun susun balok. Dia akan memainkan kedua permainan tsb jika hanya sedang mood saja. Toh di KPSP hanya disebutkan tahapan tumbuh kembangnya cukup sampai meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus, dan digukanak kubus yang digunakan ukuran 2.5 – 5 cm. Itu artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perkembangan kecerdasannya. Mungkin dalam fase ini kecerdasan visual Rey belum menonjol.

Trus, Rey cerdasnya dimana dong untuk saat ini?

Menurut hasil pengamatan aunty dan nannies, kecerdasan Rey yang sedang berkembang pesat adalah Kecerdasan Linguistik-nya (Word Smart). Rey adalah anak yang sama sekali tidak bingung ketika dipapar dengan dua bahasa sekaligus di awal-awal dia mulai belajar berbicara. Padahal sejak awal Rey mulai belajar bicara, aku dan suami sepakat untuk selalu konsisten dengan satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Pun di daycare sehari-hari digunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Ternyata dengan berjalannya waktu, Rey mulai menyerap dan memahami bahasa kedua (bahasa Inggris) secara otodidak. Ya darimana lagi dia belajar kalo bukan dari video yang uda ku download. Yabes kan video orang bule itu selalu lebih bagus dan edukatif ke anak 😦 *miris*. Nah ternyata Rey ini tipe yang kalo nonton jadi super fokus dan diserap semua kata-katanya. Hal ini efektif juga untuk mengenalkan ke dia perihal padanan kata. Rey jadi suka tiba-tiba menyebutkan kata dalam bahasa inggris. Misal dia nunjuk ke pintu dan dia bilang ‘Ibu this is a door, and this is a key’. Itu ga ada yang ngajarin sama sekali. Aku aja kalo bacain buku pasti langsung ku-translate (walaupun ku jadi puyeng kemudian).

Ketika dulu dia mulai mengenal warna, Rey akan menyebutkan warna benda dengan bahasa Indonesia. Tapi suatu ketika tiba-tiba dia menyebutkan semua warna benda tsb dengan bahasa inggris. Dan ini sama sekali tidak membuatnya bingung. Saat konseling nanny juga cerita, ketika Rey diminta mengambil gelas warna merah. Rey berjalan ke  meja dan mengambil gelas warna merah, kemudian Rey bilang ‘nanny ini gelas wred’.

Sempet bingung juga kok ngomongnya jadi gado-gado begini. Tapi menurut aunty ini tidak masalah, selama dia tidak bingung dengan padanan kata artinya dia akan baik-baik saja. Justru melihat potensi Rey ini kita bebas memaparkan dua bahasa sekaligus ke dia. Dan bener dong sekarang uda macam orang Malay ngomongnya campuran bahasa sama english 😆 . Aunty juga menyarankan, ada baiknya nanti menyekolahkan Rey di sekolah dengan pengantar lebih dari satu bahasa.

Jadi kecerdasan yang sedang berkembang pada anak itu berbeda-beda, tidak harus semua A tidak harus semua B. Jika anak belum bisa A, maka dia tidak cerdas dsb. Ada kan anak yang kalo nyanyi nadanya pas banget! ada yang kalo nyanyi liriknya bener tapi nadanya sumbang. Nah itu beda lagi kecerdasan yang dimiliki. Kenali apa kecerdasan anak yang sedang berkembang dan teruslah distimulasi. Sekarang aku juga coba konsisten, kalo Rey mulai ngajak in english aku juga jawab in english ahahha walaupun jadi keder tapi yuuuuk lah dicoba  🙂 .

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Anakku Kurang Suka Bermain Puzzle

  1. Sandra Nova says:

    Sekarang udah bisa terdeteksi ya anak itu kemampuannya yg mana, beda sama jaman dulu.. Dan emang ngga semua anak suka ma puzzle kok hahahah temen2 raya di daycare juga ada beberapa yg ngga suka. Raya dulu jg ngga suka, tapi ntah kenapa sekarang suka banget, jadi kemungkinan kesukaan anak berubah juga bisa 🙂

  2. Yeni Sovia says:

    Bener banget bunda anak itu punya 8 jenis kecerdasan. Jadi sebagai orang tua kita jangan khawatir. Mungkin kecerdasannya ditempat lain. Anak saya sulit untuk bersosialisasi karena karakter anaknya klo di luar kalem n pendiem. Tapi dia punya kecerdasan lebih dikognitifnya hihihi. Jadi yang kurangnya ttp aq stimulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s