Vaksin dan Penyesalan

Kalo bisa waktu diulang, bagian yang pengen aku ulang itu pas sebelum hamil Rey. Kenapa? karena walaupun jauh sebelum jadi mommy aku uda melanglang buana ke dunia pergaulan buibu, tapi ternyata ada pengetahuan penting yang kelewat sama aku yaitu vaksin.

Dulu setelah menikah beberapa temen menyarankan buat tes kesehatan sebelum nanti aku hamil, tes-nya apa aja aku kurang tau karena akhirnya aku ga tes. Ini step pertama penyesalan. Kenapa kok aku akhirnya percaya sama perkataan orang-orang yang ‘halah ngapain sih Wor cek, banyak kok orang yang ga cek kesehatan pas hamil sehat-sehat aja’. Nyatanya apa, begitu aku hamil dan cek darah di trimester awal barulah ketahuan kalo aku terinfeksi virus Hepatitis B. Trus karena uda terlanjur hamil jadi ga bisa ditreatment apa-apa. Kebayang kan stres-nya aku dan Rafdi mikirin gimana darahku yang ada virus Hepatitis B ini harus mengalir ke tubuh Rey melalui plasenta. Menunggu sampai Rey lahir beberapa bulan ke depan baru dia bisa ditangani. Tes bermacam-macam sampai terakhir tes dna yang harganya juga lumayan menguras kantong.

(baca juga : Kehamilan dengan HBsAg Positif )

Dalam waktu kurang dari 12 jam Rey lahir harus langsung disuntik serum Immunoglobulin untuk memutus rantai virus Hepatitis B dalam darahnya. FYI aja harga serum ini sekitar 4 sampai 5 juta, itupun dulu tahun 2015. Barulah setelah melahirkan aku vaksin Hep B selama 3 kali ulangan dan alhamdulillah tes darah terakhir hasilnya sudah negatif. Menyesal kan kenapa ga vaksin dulu sebelum hamil? Better late than never, sebelum aku hamil lagi sekarang lagi target vaksin Gardasil dan MMR juga.

image from here

Setelah kelahiran Rey, perjalanan sebagai pasangan orang tua barupun dimulai. Rasanya ga ada habis-habisnya ilmu yang kita berdua masukkan ke otak setiap harinya. Sharing dari grup January Birth Club, bacain forum sampai dengerin pengalaman kakak-kakak kita. Sampailah pada step :

‘gimana nih sama vaksin yang ga diwajibin Pemerintah? Rey ambil ga nih?’

Beberapa berpendapat lebih baik semua vaksin dilengkapi, sebagian lagi berpendapat ‘kalo ga wajib artinya ga lagi mewabah gapapa ga usah diambil kan mahal juga’. Disinilah penyesalan kedua dimulai. Padahal saat itu biaya vaksin tidak jadi masalah karena alhamdulillah fasilitas kesehatan yang Rafdi dapat di kantor sanggup membayar semua vaksin Rey, wajib ataupun tidak. Menyesalnya kenapa pada akhirnya aku dan Rafdi men-skip vaksin PCV (?) . Vaksin PCV ini memang vaksin paling mahal dari segala vaksin bayi lainnya. Jenis PCV 13 strain harganya sekitar 900ribu sampai 1,3 juta sekali suntik dan harus diulang 4 kali untuk bayi yang memulai vaksin di bawah usia 1 tahun.

Umur 9 bulan adalah kali pertama Rey opname di rumah sakit karena didiagnosa gejala pneumonia. Patah hati? banget! Pertama yang dokter tanyakan saat hasil cek darah Rey keluar adalah ‘sudah vaksin PCV bu?’ ….melihat kami berdua diam dokter melanjutkan ‘gapapa bu pak jangan sedih, habis ini kita kejar ya vaksinnya’. Bahkan setelah Rey dirawat waktu itu, setiap Rey sakit flu berat efeknya adalah Rey terserang juga otitis media akut (ear infection ). Terakhir aku tau kalo penyebab dari si OMA ini adalah bakteri Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin PCV dan HiB. Vaksin HiB sendiri aku ambil karena memang combo degan DPT.

(baca juga : Otitis Media pada Anak )

Setelah rundingan dengan dsa Rey, akhirnya aku sama Rafdi memutuskan memulai vaksin PCV ini after 1 tahun karena uda ga kekejar lagi interval-nya. Dan alhamdulillah otitis media ini lebih jarang datang walaupun masih beberapa kali terserang alhamdulillah lebih cepat sembuhnya. Setelah ulangan PCV kedua, alhamdulillah belum pernah terjadi lagi OMA ini, semoga ga pernah lagi ya Allah aamiin! Ga kebayang perjuangan harus sampai ke RS Proklamasi buat ketemu prof ahli THT dengan biaya yang lumeyeeeeen. Belum lagi tersiksa-nya Rey karena keluarnya kotoran dari telinganya bikin ga enak makan dan tidur.

Rasanya menyesal banget, melihat Rey harus menderita sakit seperti itu menyesal kenapa dulu harus ga vaksin padahal harga vaksin bukan masalah. Kenapa harus dengerin orang yang suka ‘gampangin’ urusan kesehatan. Ya ada sih yang ga vaksin dan baik-baik aja, ya alhamdulillah yah tapi kan itu tidak bisa digeneralisasi. Mungkin dulu terlalu banyak aura ‘yauda gapapa berdoa aja’ di sekitar aku yang bikin akupun berpikir begitu. Alhamdulillah sekarang lebih luas pergaulan lebih banyak juga ilmu yang didapat yang bikin melek. Doa memang penting tapi harus diimbangi dengan usaha, kan ada juga namanya ikhtiar kan yang diajurkan kalo mau sesuatu.

Trus nanti Rey vaksin MR ini juga ga yang dari pemerintah?

Definitely yes!  walaupun kemaren sampai ada yang sebar-sebar hoax bikin lumpuh dsb. Karena kondisinya sekarang Rey belum juga vaksin MMR jadi mau ga mau ambil yang MR walaupun minus Mumps. Semoga segera ada stok vaksin MMR yang di Indonesia ya Allah, yakali harus ke Singapur doang buat vaksin ini.

image from here

Terlepas dari hoax vaksin ga halal, bikin imun tubuh jadi kacau, bikin autis, pembodohan massal dll aku sampai detik ini tetap memilih menjadi orang yang pro vaksin pro program pemerintah, berdasarkan pengalaman dan penyesalanku sendiri. Urusan kondisi anak aku ga mau tinggal diam dan cuma berdoa semoga semua baik-baik aja. Kalo bisa aku usahakan lebih baik dari itu kenapa engga. Bagi yang anaknya tidak ingin divaksin atau memang tidak pro vaksin, gapapa tapi plis jangan membuat lingkungan sekitar juga jadi memilih pilihan itu karena bisa jadi si lingkungan sekitar nanti menyesal kaya aku, atau anda sendiri yang menyesal seperti saya (?). Atau mungkin buat referensi bisa dibaca-baca blog-nya Grace buat tau gimana efek besarnya persebaran penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksin.

Terima kasih mama-mama ketje di grup January yang selalu ada info-info yang bikin melek masalah kesehatan 🙂 .

 

Advertisements

24 thoughts on “Vaksin dan Penyesalan

  1. Seaマ says:

    Memang penting bgt imunisasi vaksin. Kl di LN anak dilarang msk sekolah kl vaksinnya ga lengkap. Takut jd rantai pertama wabah. Di Indo sygnya blm bnyk yg menerapkan jd kita hny bs berdoa smg ortu2 sesekelas semua ga ada yg antivaksin 😐😐

  2. ennylaw says:

    anak pertamaku gk aki vaksin lengkap nyesel euy dulu antivaks. Pgn dilengkapi pelan2 tp anak udh gede ssh dibawa suntik ke dokter 😦

  3. Hilda Ikka says:

    Vaksin memang nggak selalu darurat, tapi setidaknya dapat mencegah anak dari efek penyakit-penyakit berbahaya ya. Semoga Rey sehat-sehat selalu ya Mak 🙂

  4. sulis says:

    Aku kok ingatnya vaksin TT doang mba..
    Hi..hi, skip juga berarti dulu. Anak2 juga yang wajib doang. Alhamdulillah sehat..

    Semoga rey sehat2 juga mb..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s