Kelas Rangkul : Hal yang Tidak Bisa Kita Kontrol tapi Memengaruhi Hubungan Keluarga

Namapun adaptasi sama kegiatan baru, weekend dipenuhin dengan baking (cieh~) trus weekdays-nya masih riweuh suriweuh di kantor, jadi ketunda mulu mau nulis ini. Tapi akhirnya sempet juga nulis hasil Parenting Class beberapa waktu lalu~

*keluar dari dalam oven*

* kretetik jari*

Dari semua kelas Rangkul yang pernah aku hadiri, kelas Rangkul ini buatku sendiri adalah paling istimewa. Karena ini adalah couple class, otomatis mas Bojo harus ikutan juga 😆 . Soalnya ga bole daftar kalo yang dateng ga berdua suamik, hiks. Kebayang kan susahnya ngebujuk bapak-bapak ikutan parenting class yang biasanya cuma rame sama buibu. Rafdi uda manyun aja pas aku paksa-paksa, sambil mewanti-wanti aku ‘pokoknya aku disana tar diem aja, aku ga mau ngapa-ngapain’ …..’cuma disuru duduk doang kan?’ …..’aku jagain Rey aja deh di luar, kamu dengerin seminarnya sendiri’ dst dst dst. Tsk!

Ini adalah kelas Hubungan Reflekti pertama yang aku ikutin, temanya Manajemen Emosi Diri. Baca temanya aja uda langsung pengen ngacir dateng ke Cafe Stadion Ajah!, hasrat mau curhat uda kelewat tinggi 😆 karena antara periode terrible TWO menuju THREEnager ini sungguh lelah sekali rasanya mengontrol emosi diri. Pengennya ga jadi ibu singa (yes, aku dipanggil si Ibu Singa sama Rey kalo lagi ngamuk) tapi apadaya si anak juga suka mancing emosi emaknya 😆 . Jadi gimana cara mengendalikan emosi atau memahami emosi new mom macem aku ini, penapsaran banget.

Sebelum membahas masalah emosi, terlebih dulu onty Dhiesta (iyes aku manggilnya onty soalnya dia owner Daycare-nya Rey hihi) sama mba Ega jelasin dulu tentang apa saja hal yang mempengaruhi hubungan keluarga. Aku baru paham kenapa kelas ini dibikin couple class, karena ya pas banget sama bahasannya dan lebih enak dibahas berdua sama life partner-nya.

Pola Pengasuhan di Masa Lalu

Tentunya masa-masa menjadi anak itu lebih lama ketimbang masa kita menjadi orang tua (baru). Bahkan ketika kita menikah dan punya anak, kita masih anak Ibu Ayah kita kan. Ternyata pola pengasuhan oleh Ayah Ibu kita, atau Nenek Kakek kita sedikit banyak memberikan pengaruh pada hubungan dan pola asuh anak.

Contoh yah, aku dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai aturan jam berapapun kamu pulang dari luar (kegiatan di luar rumah) kamu harus mandi sebelum tidur, JAM BERAPAPUN even itu jam 3 pagi tetep harus mandi sebelum tidur. Sedangkan  Rafdi dibiasakan untuk cukup cuci-cuci dan ganti baju lalu tidur, karena mandi terlalu malam itu ga baik buat kesehatan. Trus sikap kita ke Rey gimana kalo dia abis jalan-jalan jauh trus sampai rumah malem?

Karena seumur hidup dibiasain orang tuaku harus mandi, pasti aku pengennya Rey juga gitu. Tapi kan dia anaknya Rafdi juga, pasti  Ayahnya pengen Rey ngikuti kebiasaan dia dari kecil. Disinilah tiap orang perlu menyadari dan mengenali mana pola asuh yang ingin diteruskan dan mana yang tidak. Ambil tengah-nya, ambil enak-nya, ambil sepakat-nya mau gimana. Jangan sampai ada yang berlaku superior, misal : lah aku kan ibunya aku yang mengandung dia, dia harus ikutin aku. Lah itu kan anak bapaknya juga lho jangan lupa 😆 . Karena sesungguhnya pola pengasuhan anak kita kan harus seiring sejalan seiya sekata antara Ayah dan Ibu, biar anak juga ga jadi rancu ‘ jadi gue harusnya gimana sih ini?!’.

Keunikan Tempramen

Dulu waktu kelas Disiplin Positif diajarkan bahwa setiap anak yang lahir sudah memiliki keunikan tempramen sendiri. Contoh yah, aku lahir dengan emosi yang konstan. Konstan marah maksudnya 😆 , beda sama Rafdi yang bawaan emosinya memang kategori Plegmatis parah. Sangat menghindari konflik. Bahkan dia suka heran ‘kamu ngapain sih marah-marah? kan ga merubah keadaan juga’ errrrr iya sih tapi kan tapi kan *ah sudahlah*.

Dalam hubungan keluarga, memahami keunikan tempramen bawaan pasangan juga penting. Mengenali dan menerima temperamen tiap anggota keluarga serta saling bantu dalam mengelola temperamen bawaan ini adalah salah satu kunci keberhasilan hubungan dalam keluarga. Bagi Rafdi yang plegmatis dia ga akan suka kalo ada problem trus aku tanya-tanya. Dia lebih suka memikirkan masalah dengan diam dan tenang, baru bisa nemu solusinya. Jadi kalo lagi begitu aku kasih waktu ke dia buat ngapain lah  nenangin diri dulu, biasanya sih main game tsk! Dan Rafdi pun paham aku harus merepet biar emosinya keluar dan bisa berpikir untuk solusinya, jadi dia biasanya memberi aku waktu untuk merepet kalo ada masalah 😆 .

Nah PR kita adalah mengenali karakter Rey, apakah seperti aku atau Rafdi? Dan bagaimana kita mencoba mengarahkan dia untuk bisa mengenali dan memanajemen emosinya kelak.

Hubungan Sosial/Pergaulan dan Dunia Luar

Kita tidak dapat mengontrol pola asuh yang diterapkan oleh orangtua teman anak kita. Kita tidak tahu temperamen dan perilaku seperti apa yang dimiliki teman kantor suami. Kita tidak dapat mengontrol dengan siapa kakek-nenek bergaul di sekitar rumahnya. Namun, hal-hal tersebut akan berpengaruh pada anggota keluarga kita dan pada akhirnya pada hubungan kita dengan mereka.

Ini sih yang sebenarnya aku masi rada deg-degan-an, dengan siapa nanti anak kita main? bahasanya? perilakukan? teman anak kita yang kita yang tau gimana pola pengasuhannya. Jadi menurutku membersamai anak dan menanamkan dengan kuat nilai-nilai pola asuh yang kita anut ini benar-benar PR besar orang tua *menatap nanar surat resign yang masi di folder PC*. Seperti pesan bu Najeela Shihab di video-nya kemarin, semakin kuat nilai dan konsistensi perilaku kita dalam keluarga, semakin mudah untuk memberdayakan anak.

Perubahan Zaman

Kayanya isu perubahan zaman dan dunia digital ini menjadi hal yang sering digaungkan di setiap parenting class dimanapun. Bagaimana caranya menjadi orang tua yang bijak, yang masih menganut pakem-pakem pendidikan masa lalu di era milenial ini ?

Kalo jaman dulu di meja makan, kegiatan makan ya makan aja atau sambil bercengkrama dengan keluarga. Akhir-akhir ini sering kan liat di resto tangan kanan makan, tangan kiri sibuk scroll layar hp padahal di depannya lagi ada orang lain yang mungkin bisa diajak ngobrol aja? atau at least yang dicuekin karena matanya sibuk ke layar hp? Siapa yang begitu?

Aku! *ngacung tinggi tinggi*

Aku masih kadang suka begitu kalo lagi ada yang seru di group WA atau IG, padahal lagi makan sama Rafdi sama Rey hiks. Trus beberapa kali kena tegor Rafdi, itu hpnya taro dulu deh. Atau Rafdi yang asik baca berita pas makan bareng juga aku ingetin. Susah memang tapi harus diingatkan lagi diingatkan lagi biar lama-lama biasa. Aku sama Rafdi mulai sekarang berniat banget nahaaaaan-nahaaaaaaan ga main hp kalo lagi sama-sama. Mungkin sekarang belom kerasa karena Rey masih kecil. Kebayang kalo dia setiap hari melihat ortunya sibuk dengan gadget even lagi sama-sama. Bisa-bisa kalo nanti dia gede dia bakal ngobrol sama Ayah Ibunya sambil mainin hp. Kebayang ga sakit hatinya? *kres kres*. Karena anak adalah peniru ulung, berikan dia contoh baik untuk ditiru.

Empat hal tadi adalah hal-hal yang tidak bisa kontrol datangnya, tetapi juga sedikit banyak mempengaruhi hubungan dan pola pengasuhan anak kita. Dengan kesadaran kita akan hal tsb, kita bisa sebisa mungkin meminimalkan efek buruk dari luar yang memengaruhi hubungan dan pola asuh.

Eniwei aku terharu banget pas sesi sharing Rafdi berani ikutan sharing tentang emosi apa yang paling sering dirasakan setelah menjadi orang tua, kurang lebih isinya :

Saya sering merasa tidak enakan kepada anak, karena ada rasa bersalah sering kurang waktu untuk Rey. Lebih sibuk di kantor. Makanya saya sering menuruti apa saja kemauannya, dia mau beli mainan apa saja saya turuti untuk menebus rasa bersalah saya. Tapi kemudian saya sadar itu tidak baik dan tidak mendidik anak. 

Aku sendiri baru tau Rafdi ngerasa begitu, lah dia kan orangnya males cerita hal-hal receh begitu sama aku. Eh tapi malah berani sharing di forum 😆 . Bagus banget ide kelas pasangan ini, jadi lebih sinkron kan bekal pengasuhannya, ya Ayahnya ya Ibunya. Karena mengasuh anak, membesarkan anak memang tanggung jawab berdua, Ayah dan Ibu. Pas aku tanya kesannya, Rafdi bilang

iya sih aku jadi punya ilmu baru, jadi tau oh harusnya begitu oooh ini tuh karena itu

Dan sepanjang seminar itu Rafdi fokus banget, kalo aku malah sambil sibuk liatin Rey ngapain aja di Kid’s Coner. Jadi parenting class lagi dong kita Yah? 🙂 .

Advertisements

4 thoughts on “Kelas Rangkul : Hal yang Tidak Bisa Kita Kontrol tapi Memengaruhi Hubungan Keluarga

  1. Zilqiah says:

    Ahhh iya benar juga ini saya ngalamin huhuhuh.. kadang sama keluarga besar jg sbnrnya gitu gak terlalu akrab2ab karena pengaruh dunianluar pergaulan . Hal itu mau aq ubah biar anak2ku akbrab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s