Empati

em·pa·thy
ˈempəTHē
noun
  1. the ability to understand and share the feelings of another.

Dulu kayanya julukan ‘kemal’ alias kepo maksimal is my middle name. Aku bakal cari tau segala info kalo lagi penasaran, ga peduli itu nanya langsung ke yang bersangkutan atau ga, ga peduli si orangnya ini risih atau ga. Yah pada akhirnya waktu yang mendewasakan *ciyeh*.

Sebagai contoh, dulu buat aku ketemu penganten baru dan nanya ‘uda isi belom?’ adalah hal yang yah wajar-wajar aja dong namanya juga penasaran. Sampai akhirnya aku abis nikah sempet kosong 3 bulan dan risih banget ditanya begituan. Kemudian mikir dan berniat ga akan pernah aku nanya hal tsb ke orang lain, karena itu ga ngenakin. Dan dipikir-pikir ga penting juga, kalo uda tau njur mau apa?

Seiring waktu jadi buibu juga makin bisa tau, poin-poin mana yang ga usah ‘disinggung’ ke orang lain karena itu bisa bikin orang lain ga nyaman. Semisal, nanya lahirannya normal apa SC? anaknya sufor apa ASI? dsb dsb dsb. Ya kalo mereka ga cerita ya ga usah ditanya. Kenapa ga mau cerita? Ya kenapa juga harus cerita. Mereka ga utang janji mau ceritain kehidupan pribadinya kan ke orang lain.

Akhir-akhir ini di socmed lagi viral banget tentang kehidupan Bunda O dan si anak B. Kebetulan aku memang follow ig-nya, lupa dulu tau darimana. Kayanya karena beberapa temenku juga follow jadi muncul dilist mutual friend (?) lupa deh. Tapi aku memang ga sebegitunya ngeh dan kepo abis kalo liat postingan fotonya. Cuma sekedar ‘oh iya anaknya mempunya keiistimewaan’ . Malah aku jadi tau kenapa-kenapa nya ini dari postingan di FB yang rame-rame di-like dan share sama rangorang.

Pertama aku bacanya agak kaget sih ‘kok jadi begini ya’. Kebetulan yang aku baca itu artikelnya seolah-olah menggambarkan kalo kita sebagai ibu-ibu patut bersyukur perjuangan kita tidak harus sesulit Bunda O, yang notabene mempunyai anak yang istimewa. Bagus sih jadi semacam menyadarkan diri dari kelelahan batin ngurus anak-anak. Tapi kok di sisi lain, seolah-olah si B ini menyedihkan sekali sih nasibnya (?). Kenapa anak kita harus dibandingkan sama dia? dengan standar apa harus bersyukur karena melihat kisah si B? Menurutku kalo bersyukur ya bersyukur aja ga usah memposisikan orang lain lebih buruk nasibnya dari kita baru bersyukur.

Nah beda dengan jarangnya aku ngeh postingan orang di IG, aku justru lagi hobi banget nontonin IG Stories rangorang yang aku follow. Kebetulan banget aku buka IG Stories Bunda O yang beberapa kali posting tulisan, kurleb isinya banyak pihak di luar sana yang menyeritakan perjuangannya dengan judul yang menyedihkan. Bahkan ada yang play as a doctor dan menasehati ini-itu-ini-itu dan bertanya-tanya hal yang sama berkali-kali tentang putrinya. Kebayang sih perasaannya kaya gimana. Bahkan ketika anak kita ditatap dengan tatapan iba aja bisa bikin ibunya sakit hati. Lebay banget sih gitu aja sedih? yes we are. Perasaan ibu-ibu ini paling baper kalo uda urusan darah dagingnya sendiri. Padahal setauku Bunda O ini selalu posting tentang putri kecilnya si B, karena ingin menunjukkan pada dunia bahwa cinta orang tua begitu besar kepada anaknya. Bahwa semua anugerah Allah itu sempurna. Bahwa putrinya ini sama seperti anak-anak yang lainnya. Tidak perlu dipandang lebih sedih, lebih berat perjuangannya, dan hal-hal ‘spesial’ lainnya.

Dan kemudian banyak yang berdalih kan namanya berbagi informasi, sah-sah aja dong. Kan namanya juga resiko memposting hal pribadi di social media, ya jangan salahkan orang lain dong mau nulis apa. Itu kan hak semua orang mau nulis apa di social media-nya.

Hey, itu kaya lagi ngomong ‘yauda anaknya ga usah keluar rumah aja, kalo ga mau dikomen sama tetangga. Itu resiko anaknya keliatan sama tetangga kan’

Lha terus seenak itu bisa komenin hal pribadi orang lain? terlepas orangnya nyaman atau tidak dengan dalih sah-sah-aja-dong. Jadi yang seharusnya diluruskan disini siapa ya? Kita yang salah karena mempublish foto keluarga kita atau orang di luar sana yang terlalu bebas dan kasar melempar komen atau menulis tentang keluarga kita? Memang setiap yang diposting di dunia maya akan terkena dampak dikomen, dibully atau bahkan plagiarisme. Jadi inget foto Emma yang dulu suka dicuri orang tidak bertanggung jawab, dengan dalih ‘kan ambilnya dari google bebas bebas aja dong, salah sendiri share di internet’ errrrrr.

Balik lagi ke masalah empati. Memahami situasi dan perasaan orang lain memang sangat sulit, tapi pasti bisa diusahakan. Memahami bahwa tanpa kita nasehati ini itu ke dokter sana sini, yakinlah orang tuanya sudah jauuuuuuuuuuh memikirkan hal tsb. Tanpa kita tanya anak ini kenapa? kok bisa begini begitu? Yakinlah Ibunya pun mungkin dulu setiap hari bertanya hal tsb pada dirinya sendiri. Kalo kita tidak bisa membantu posisinya yang mungkin sedang sulit, cukup dengan tidak menambah luka batinnya.

Aku jadi mikir kalo posisiku di Bunda O dan melihat banyak artikel berseliweran bergambar Rey dengan judul yang menyedihkan pasti aku juga akan sakit hati. Ditulis tanpa ijin, ditulis hanya modal comot gambar sana-sini tanpa tau cerita runtutnya, sehingga menciptakan kesan yang kadang jauh berbeda dengan kenyataan. Aku masih ga ngerti motivasi si pembuat artikel di FB itu, apakah hanya sekedar mengejar like and share sebanyak-banyaknya? kemana empatinya? kalo anaknya yang fotonya dibahas-bahas itu kaya apa sih rasanya?

Always put yourself in other’s shoes. If you feel that it’s hurts you, it probably hurts the other person too. Boleh-boleh aja kita bilang kalo semua hal di social media itu kena dampak negatif, tapi balik lagi kita sendiri seperti apa? bisakah kita bijak dan mempunyai empati ketika share hal-hal di dunia maya?

image from here

Advertisements

4 thoughts on “Empati

  1. Sawitri Wening says:

    Ini yg dimaksud sama nggak ya dgn yg aku pikirkan dan artikel yg dimaksud jg aku gatau yg mana.

    Tp, mirip bgt kayak yg aku pikirkan akhir2 ini. Apakah social media bikin org seolah kehilangan empati.

    anyway, good reminder mbak. Nggak semua orang sadar untuk mikirin hal ini waktu share segala sesuatu di socmed, walaupun bisa jadi niatnya baik. 😊

    • Woro says:

      Iya Wening harus ati-ati, mungkin dari satu sisi info tsb banyak manfaatnya, tapi gimana dari sisi yang diberitakan? keberatan ga? gitu sih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s