Kartini dan Kebebasan Kaum Wanita

Agak lebay, tapi ciyus happy banget akhirnya setelah lebih dari dua taun aku bisa nonton di Bioskop lagi 😆 .

*tebar tebar Confetti*

Kok baru sekarang? emang ga bisa ninggal bentar buat nonton? atau anaknya dibawa aja?

Salahin drama Korea, pokoknya salahin dia. Soalnya semenjak melahirkan dan sampai sekarang jadi makin-makin kencanduan nonton drakor di tab. Agak susah berpaling ke film bioskop kalo uda kecanduan oppa-oppa itu, iya kan? iya *baperin Park Hyung Sik*.

Jadi akhirnya kemaren momennya pas banget. Diajakin mama mertua dan kaka ipar nonton film Kartini dalam rangka hari Kartini. Sebenernya alasan yang paling mendasar kenapa aku pengen nonton film ini adalah, karena aku berasal dari Rembang. Kepo aja gitu, dibahas ga sih Rembang itu di film Kartini, alasan yang sungguh cetek 😆 . Alasan lainnya ya karena banyak yang bilang bagus, pas banget ada temen nonton dan ada bapaknya yang rela jagain Rey selama aku nonton *kiss kiss* .

image from here

Film Kartini sendiri khas film-filmnya mas Hanung *ikrib*, detail banget. Ya lokasi, kostum, dialek, dan alur cerita tentunya. Kita bener-bener dibawa balik lagi ke taun 1889, saat Kartini berusia 10 tahun. Film Kartini dibuka dengan adegan Kartini kecil yang sedang teriak-teriak karena tidak diperbolehkan tidur bersama Ibunya dan harus tidur di Rumah ‘Depan’ (rumah untuk kaum bangsawan). Aku uda baper banget kalo uda ada anak kecil nangis-nangis manggil Ibunya gitu. Dan sebagai orang Rembang-pun aku malu, masa loh aku baru tau kalo Ibunya Kartini (Yu Ngasirah) itu bukan kaum bangsawan. ZONK banget, ketauan ga pernah belajar Sejarah dengan baik dan benar.

Kartini bersama Romo dan Ibunya (image from here)

Padahal bapaknya Bupati Jepara, kok bisa? Bukannya jaman dulu bangsawan menikah dengan bangsawan?

Ternyata RM Sosroningrat menikah lagi dengan Moeryam yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura dan kemudian menjadi Bupati Jepara. Singkat cerita, sesuai adat  perempuan dari kaum bangsawan harus melakukan pingitan setelah menstruasi pertama (sekitar umur 12 tahun). Masuk pingitan berarti disiapkan untuk menjadi Raden Ajeng. Menjadi Isteri seorang bupati agar mewarisi keturunan ningrat. Mereka hanya boleh beraktifitas di dalam pendopo sampai ada lelaki bangsawan yang datang melamar. Apakah dijadikan istri pertama ataupun ketiga dst, mereka harus siap tanpa punya pilihan lain.

Nyesek banget ya rasanya, bener-bener ngerasa hidup yang ga ‘hidup’.

Disini Kartini mulai ‘berontak’, bahkan dia memerintahkan adek-adeknya untuk memanggil dia tanpa sebutan Raden Ajeng. Karena dia hanya ingin menjadi seorang Kartini, tanpa embel-embel Raden Ajeng. Di sisi lain kakak Kartini, RM Sosro Kartono yang sekolah di Belanda mewariskan Kartini buku-buku yang bisa ia pelajari untuk membuka wawasannya, dan menyemangatinya untuk terus belajar dan berjuang. Di dalam kamar pingitannya, bersama kedua adiknya Kardinah dan Roekmini mereka bebas belajar, mengembangkan imajinasinya untuk bisa sepintar dan sebebas perempuan-perempuan Belanda kala itu.

Kalo komen Rafdi ‘aku pikir Kartono itu cuma nama plesetan aja dari Kartini versi cowo’ 😐 . Banyak kah yang berpikiran begini juga? 😆 .

Dari buku-buku itulah Kartini mulai mengembangkan ide-idenya untuk terus menulis dan berusaha membuat perubahan di sekitarnya. Tentunya dengan dukungan Ayahnya, Kartini bisa memperkenalkan ukir Jepara sampai ke Belanda, dan menolong perekonomian pengukir di Jepara. Selain itu Kartini juga mendirikan sekolah untuk para wanita dan masyarakat miskin di sekitar kabupaten. Namun hal ini justru membuat beberapa saudara dari Ayah Kartini dan Ibu tiri Kartini (Nyonya Moerjam) tidak suka, karena dianggap melampaui batas wanita bangsawan. Bahwa tidak seharusnya wanita bisa terkenal dan bisa membuat banyak perubahan untuk masyarakat.

Di film Kartini sendiri, perasaan penonton dibuat campur aduk. Keren banget Hanung Brahmantyo bisa membuat suasana hati penonton bener-bener ‘masuk’ ke suasana filmnya. Ya sedih, marah, haru dll. Dan di akhir cerita penonton dibuat berderai air mata haru pas Kartini menikah. Penasaran karena apa ? yah ada baiknya ditonton sendiri hihi dan siapin tisu ya jangan lupa.

JAWARANYA!!!! (image from here)

Pemainnya juga ga perlu diragukan lagi lah ya, sekelas Dian Sastro, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Djenar Maesa Ayu dll. Dan dari semua itu aku kasi 10 jempol buat Christine Hakim. Padahal dia bukan dari Jawa apalagi Jawa Tengah pesisir, tapi logatnya beuh medhok banget. Dan penampilannya pun persis seperti mbok-mbok jawa jaman dulu.

Sedangkan tokoh paling unik dari film Kartini adalah Dwi Sasono, yang memerankan bupati Rembang. Kemunculannya di akhir film membuat beberapa penonton berkomentar ‘loh ada Mas Adi’…….’kok mas Adi sih haha’ …… ‘lucu ya ada mas Adi’ kebayang langsung dong karakter kocak dan usil khas mas Adi di sitkom Tetangga Masa Gitu yang diperankan oleh Dwi Sasono 😆 . Merusak image Bupati Rembang yang kalem dan njawani banget. Tapi justru ini menjadi ‘penyegar’ di akhir cerita yang mulai serius.

FROM THIS

TO THIS, gimana ga ngakak coba

Alasan mendasar nonton film Kartini ini karena pengen liat Rembang, pupus sudah karena ga diceritain 😆 . Tapi semua terbayar setelah melihat hutan jati, bahasa dialek khas Jawa Tengah Pesisir, orang yang di-make-up khas pesisir item keling dsb, langsung bikin homesick 🙂 .

Puncak emosi dari film ini, yaitu pas Christine Hakim duduk berdua bersama Disas. Setelah drama Kartini dikurung oleh Moeryam di kamar karena dianggap egois dan tidak mematuhi adat. Naluri Ibu dari Ngasirah pun membuat dia berani membebaskan putrinya dari kamar dan mengajak untuk duduk santai di luar. Quality time antara Ibu dan Anak yang mungkin sudah belasan tahun tidak mereka rasakan. Ngasirah mencoba mendiskusikan dengan Kartini, tentang pemikirannya, tentang budaya Belanda dan tentang takdir menjadi wanita. Tidak lagi memanggil ndoro dan Yu, tetapi Ibu dan Trinil, ini momen paling bapeeeer 😥 .

Mungkin banyak sekali kelebihan yang sudah kamu pelajari dari aksara/budaya Belanda, tapi ada satu hal yang mereka tidak punya dari kita. BAKTI.

Bahwa KEBEBASAN tanpa BAKTI itu tidak ada artinya. Sebagai wanita, memang wajib hukumnya menjadi pintar, melakukan perubahan baik untuk sekitar. Tapi jangan lupa kita harus punya bakti. Bakti pada suami, pada keluarga dan pada adat istiadat kita 🙂 .

I am so proud of being Javanese woman 🙂

Bagi yang belum nonton ataupun ragu-ragu, nonton ga sih? Aku saranin NONTON! serius ini worth it banget apalagi untuk para wanita atau ibu. Ceritanya menyentuh dan tentunya bikin mewek-mewek karena haru sekali 🙂 .

Advertisements

6 thoughts on “Kartini dan Kebebasan Kaum Wanita

    • Woro says:

      hahaha iya iya orang mikirnya Kartono ini hanya tokoh ‘karangan’ sebagai Kartini versi Cowo. Padahal di Jepara di Musem Kartini, ada cerita lengkap Kartono yang pintar dan jadi dokter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s