Menyiapkan Generasi yang Cerdas Digital

Setelah beberapa waktu lalu publik dihebohkan dengan broadcast HOAX tentang penculikan anak, bahkan sampai sekarangpun aku masih geram dan sedih. Ternyata masih banyak yang pada percaya trus akhirnya banyak orang gila (beneran) yang ga bersalah jadi korban. Kabar terakhir ada yang meninggal juga 😥 . Atau bagi follower akun gosip di IG, pasti ga asing lagi sama komentar sadis-sadis antar fans artis-artis. Kadang kalo aku iseng, aku liat profil IG nya. Kaget banget, mereka tuh masih sekolah antara SMP SMA lah, tapi ngomongnya bikin ngelus dada.

HOAX, Cyber bullying, OLS abal-abal, pornografi itu sebagian dari bentuk ketidak cerdasan pengguna dunia digital. Padahal ada juga macem Blake Aaron Ross yang udah bisa nyiptain Browser fenomenal Mozila Firefox di usia mereka yang hobinya komenin sadis artis-artis di IG ini. Jadi kalo disimpulkan dunia digital harus dihindari banget ya salah juga, karena sebenernya banyak juga manfaatnya kalo digunakan dengan benar.

Kebetulan beberapa waktu lalu aku dikabari sama owner-nya Pepito Daycare, kalo mau ada seminar dari Keluarga Kita tentang Cerdas Digital. Aku langsung buru-buru daftar, karena tau sendiri kuota seminar dibatasi 😆 . Kali ini aku ajakin Rafdi buat ikutan, karena merasa materinya pas buat kita berdua. Rey gimana? terpaksa diangkut karena ga ada yang jaga di rumah 😆 .

Kelas Rangkul dengan peserta terbanyak yang pernah aku ikuti, aaaak~

Walaupun terlalu dini yah untuk aku khawatir Rey bisa menjadi pengguna aktif dunia digital, tapi aku ngerasa kalo waktu itu bakal cepat berlalu dan tau-tau Rey uda mahir mengakses beberapa konten digital kaya socmed, browser dll. Better worry than sorry, aku dan Rafdi berniat belajar jauh lebih awal. Ya untuk Rey dia sekarang aman-aman aja main youtube dengan offline mode, tapi apa bisa bertahan lama? setaun dua taun lagi? dia bakal tau lebih seru main youtube dalam online mode.

Sebenernya yang namanya mengajarkan sesuatu itu bisa dimulai di rumah, begitu juga mengajarkan Cerdas Digital. Relawan Keluarga Kita menjelaskan step-step panduan mengajarkan Cerdas Digital di rumah, antara lain :

Perspektif Anak

Orangtua mendengarkan perspektif anak tentang dunia digital, misal dengan pertanyaan apa pendapat anak mengenai dunia digital? apa yang dia tau tentang dunia digital dsb.

Nah yang namanya dunia digital ini ga melulu socmed loh, walaupun mostly anak-anak usia pra remaja lebih aktif di somed. Bahkan situs web yang kita kira aman malah bisa menjadi situs yang paling berbahaya di dunia. Yep! Google. Kita bisa mencari apaaaaaaaaaaaaaaa saja yang kita mau hanya dengan sesimpel type and click Search!  

Perspektif Orang Tua

Dari step ini orang tua bisa memberikan gambaran tentang dunia digital kepada anak-anak. Tentunya dengan bahasa yang gampang mereka pahami yah. Misal, dunia digital itu kaya pasar, ada penjual ada pembeli, ada juga copet yang jahat suka ngambil barang orang lain. Memberi gambaran kalo apa yang kita posting bisa dilihat orang seluruh dunia dan konten (seperti foto, video dll) tidak bisa hapus dari dunia digital walaupun sudah kita hapus dari akun kita. Jadi berhati-hatilah men-share info, foto, video dll. Atau mengajarkan bahwa kita harus jadi orang yang baik juga di dunia digital, seperti tidak menyebarkan berita bohong/HOAX, tidak melakukan cyberbullying dll.  Atau mungkin dengan pendekatan seperti,

Kalo adek fotoin rumah kita, trus adek upload. Orang lain bisa tau dimana letak pintu kita, dimana letak lemari kita. Adek mau ga kalo ada orang ga dikenal tau-tau masuk rumah kita trus ambil barang di lemari kita?

Nah ada 4 poin penting yang menjadi prinsip untuk mengajarkan Cerdas Digital, yaitu aspek 4K (Kritis, Keamanan, Kolaborasi, Kreativitas).

Berbagi Pengalaman Digital

Bagi yang anaknya sudah menginjak pra remaja mungkin step ini bisa lebih ditingkatkan. Orang tua dan anak bergantian berbagi pengalaman digital. Pengalaman apa yang menyenangkan atau pengalaman apa yang menantang. Jika ada pengalaman yang menantang apa yang harus dilakukan, bagaimana kita bersikap.

Tapi kan komunikasi sama anak itu ga mudah, mana mau mereka terbuka?

Well, iya sih mungkin ini yang harus digaris bawahi kalo  komunikasi efektif dengan anak perlu dikembangkan sejak dini. Jadi anak tidak malas/ragu mengungkapkan apa yang dia pikirkan atau rasakan ke orangtuanya, dan kita sebagai orang tua juga tidak menjadi sibuk menebak-nebak apa yang terjadi pada anak kita.

Membuat Kesepakatan Bersama

Mungkin kalo usia se Rey, secara sepihak aku bisa aja bikin aturan kalo nonton Youtube hanya boleh Sabtu dan Minggu. Itu juga aku bilang dulu ke dia sebelum mulai nonton ‘iya hari ini Rey boleh nonton soalnya masih hari Minggu, besok Senin sampai Jumat Rey ga bole nonton lagi yah’. Emang dia ngerti? hey …. jangan selalu sepelekan kemampuan anak-anak 🙂 walaupun awalnya ngomong apa sih emak gue lama-lama dia akan terbiasa dengan aturan dan paham.

Membuat kesepakatan sebaiknya si anak juga dilibatkan. Kalo perlu dibuat kesepakatan tertulis dan ditempel di ruang terbuka di rumah seperti ruang makan atau ruang TV. Peraturan bisa berisi house rules seperti kapan saja boleh menggunakan internet, PC harus ada di ruangan terbuka (bukan di dalam kamar) bisa di ruang makan atau ruang keluarga, login PC untuk anak dan orang tua harus dibedakan dll.

Melakukan Refleksi dan Menyusun Rencana Aksi

Secara bergantian, orangtua dan anak saling berefleksi tentang apa saja yang sudah didiskusikan dan bersama-sama menyusun langkah selanjutnya. Mungkin kalo step-step di atas sudah mulai efektif berjalan, orang tua dan anak juga fleksibel bisa merubah isi dari kesepakatan bersama-nya. Disesuaikan dengan  hasil evaluasi dari kesepakatan sebelumnya yang sudah dijalankan.

Secara prinsipnya anak kita ini adalah penduduk asli dunia digital, sedangkan kita para orang tua ini adalah imigrannya. Maka dari itu kita yang harus belajar mengejar ketertinggalan dunia digital yang sedang berkembang pesat. Mungkin di masa mendatang internet sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari dunia anak-anak kita. Seperti yang disampaikan Relawan Rangkul kemarin, menjadi cerdas digital ini tidak bisa hanya sekali dipelajari tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang tertarik dengan materi Cerdas Digital, sekarang sudah ada materi lengkapnya di website Cerdas Digital.

Bersama makemak syantik Geng January 2015 Birth Club

Serunya kemaren ketemu sama Lulu dan Ruwry (Geng January 2015), habis seminar ngobrol-ngobrol trus main ke rumah Ruwry! 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “Menyiapkan Generasi yang Cerdas Digital

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s