Berkenalan dengan Temper Tantrum

Beberapa bulan lalu, untuk pertama kalinya saya melihat Rey menangis dan marah di tempat umum. Walaupun sebelum-sebelumnya saya selalu rajin mencari tau tentang tantrum, tapi pada kenyataannya saya lumayan syok juga ketika mengalaminya sendiri. Kejadiannya adalah ketika saya diberi tugas oleh suami untuk menjaga barang-barang bawaan, sedangkan suami saya menunggu koper  dari bagasi pesawat. Mungkin karena mood Rey juga sedang tidak bagus, karena dia dipaksa bangun ketika pesawat landing. Diapun mulai berulah ingin lari-larian di bandara yang sedang ramai-ramainya. Begitu saya larang, Rey langsung menangis dan guling-guling di lantai Bandara.

img_1670

Setiap orang yang lewat menatap Rey dengan mengernyitkan dahi atau sambil bisik-bisik. Bahkan sampai ada pula seorang Ibu yang bertanya ke saya ‘anaknya kenapa bu?’ karena saya sedang sibuk mengatur emosi, maka saya jawab dengan nada agak judes ke ibu tadi ‘ga apa-apa bu biasa rewel’. Saya berusaha sekuat hati tidak ikut terbawa emosi dan sebisa mungkin membiarkan dia menyelesaikan emosinya. Walaupun suasanya hati saya sudah tidak karuan.

Temper Tantrum atau lebih sering disebut dengan tantrum adalah hal yang normal terjadi pada usia anak 18 sampai 36 bulan. Tantrum merupakan luapan emosi anak atas rasa kecewa, marah ataupun sedih. Karena pada usia tsb anak belum mampu mengekspresikan emosinya dengan kata-kata, maka tak jarang anak menjadi frustasi dan kemudian marah atau menangis histeris. Seperti yang pernah saya bahas sebelumnya bahwa pada usia ini anak sedang mulai mengenal emosi yang ada di dalam dirinya. Tanpa kita sadari kadang justru sikap kitalah yang membuat emosi anak ‘tersumbat’. Dengan cara mengalihkannya ke hal lain, atau memarahinya agar segera berhenti menangis. Justru hal tsb dapat membuat emosi anak tidak tersalurkan, dan dapat menumpuk. Tumpukan emosi ini yang pada akhirnya dapat meledak tidak terkendali, dan muncul sebagai tantrum.

Sampai saat ini Rey masih masuk kategori Mild Tantrum, dimana rentang waktu tantrum masih relatif singkat. Hal yang saya pegang teguh ketika Rey mulai tantrum adalah memahami bahwa anak memang butuh mengeskpresikan emosinya, menyelesaikan emosinya. Sebagai orang tua, ketika melihat anak saya tantrum saya hanya berhak mendampingi, menemaninya dan memeluknya, bukan memberikan intervensi ataupun berusaha menghentikan emosi anak.

Jika tantrum ini sudah terlanjur terjadi, maka hal yang bisa dilakukan diantaranya adalah :

1. Tetap tenang dan lanjutkan aktifitas yang sebelumnya dilakukan

Ini memang hal tersulit, apalagi ketika anak mulai tantrum di depan umum, pasti sebagai orang tua kita reflek ikut panik dan ingin tantrum anak segera berhenti. Karena pada dasarnya tantrum anak itu, semakin diperhatikan akan semakin menjadi-jadi. Maka sebaiknya kita tetap tenang, tetap melanjutkan kegiatan kita dan berpura-pura tidak melihat. Jika sekiranya anak tantrum di area yang menggangu umum, maka anak bisa kita bawa ke tempat yang lebih sepi agar lebih bisa leluasa meluapkan emosinya tanpa takut mengganggu orang lain.

2. Jangan mengalihkan perhatian anak

Kebanyakan dari kita sering kali berusaha menenangkan anak dengan mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Hal ini justru membuat emosi anak tidak tersalurkan dengan tuntas. Atau kadang orang tua mencoba memberikan iming-iming kepada anak supaya segera berhenti menangis atau marah, misal ‘ayo kalo adek ga nangis nanti mama berlikan es krim’. Hal tsb justru mengajarkan sogokan kepada anak sejak dini. Akibatnya di kemudian hari anak akan lebih sering menangis untuk mendapatkan apa yang dia inginkan atau mendapatkan hal-hal menarik yang ditawarkan oleh orang tuanya.

3. Dampingi anak dan berikan pelukan

Ketika anak sudah mulai marah, menangis histeris atau bahkan sampai guling-guling di lantai, sebaiknya kita dampingi tanpa harus melakukan kontak mata atau mengajak berkomunikasi. Amati juga apakah ada benda-benda yang berpotensi bahaya di sekitarnya atau tidak, jika ada kita bisa singkirkan bedan tsb. Jika emosinya perlahan reda, maka sebaiknya berikan anak pelukan dan mencoba mencari tau apa yang membuatnya begitu kesal atau kecewa. Ingatkan lagi kesepakatan-kesepakatan yang sebelumnya dibuat. Misal anak menangis karena tidak diberikan mainan, mungkin kita bisa mengingatkan jika orang tua dan anak sebelumnya sepakat membeli mainan itu hanya boleh sebulan sekali dsb.

4. Berikan pujian ketika dia sudah bisa mengatasi tantrumnya

Jika emosinya sudah benar-benar mereda, berikan anak pelukan dan pujian. Kita juga bisa mengajarkan pada anak seperti apa menangis atau marah yang diperbolehkan. Misal, boleh menangis tapi tidak boleh sambil pukul-pukul Ibu, atau boleh marah tapi tidak boleh melempar-lempar mainan dsb. Berikan juga pujian untuk anak karena sudah bisa mengatasi tantrumnya tanpa menyakiti orang lain atau merusak barang-barang dsb.

Dari beberapa kejadian tantrum pada Rey setelah insiden di Bandara, saya perhatikan durasi tantrumnya semakin lama semakin singkat. Tentunya tidak mudah ya mom mengontrol emosi kita, karena kalo keadaan fisik ataupun mental kita sedang lelah kitapun juga lebih cepat terpancing emosi. Kalau saya triknya adalah duduk saja sambil melihatnya menangis atau pindah ke tempat yang lebih sepi. Kalau mama-mama sekalian, apa tips mengatasi anak yang sedang tantrum?

Note : Artikel ini juga saya posting di website The Urban Mama

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Berkenalan dengan Temper Tantrum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s