Let’s Love More and Judge Less

Gegara baca tulisan mba Lita jadi terinspirasi sama apa yang lagi di depan mata🙂 .

*menghela nafas panjang*

Ternyata namanya dunia ibu-ibu lebih ngeri daripada dunia galau-galau dari gadis sampe punya suami. Penuh dengan hawa-hawa kompetisi yang lebih banyak ga sehat ketimbang sehatnya. Mom’s war is everywhere. Coba sebutin apa aja yang ga didebatin sama buibu, ASI VS Sufor, SAHM VS WM, MPASI Homemade VS Makanan Instan, BLW VS MPASI Konvesional, RUM VS Non RUM, Diapers VS Clodi, bahkan yang terbaru yang sudah dicetuskan oleh artis (sebuat saja) mbak SD adalah istilah Anak ASI VS Anak ASIP *meh* yang membuat dia sukses jadi public enemy di dunia buibu.

Itu baru segelintir persoalan basic anak, belom lagi kalo si anak uda memasuki tahap toddler, konsep pendidikan lah, tiger mom lah bla bla bla banyak banget yang sering digaung-gaung kan oleh komunitas buibu. Awal-awal menjadi seorang ibu gue haus banget akan informasi, maklum kan ya first time mom macem gue ini masi buta soal dunia parenting. Akhirnya mencari tau ke segala penjuru dunia (nyata dan dunia maya) ilmu menjadi ibu yang bener itu kaya gimana sih? Join forum-forum, rajin banget bacain artikel parenting. Ngerasa segala ilmu ‘ideal’nya masalah parenting uda cukup memadai buat bekal jadi ibu.

Sampailah pada jalan hidup yang ga lagi ‘ideal’. Idealisme yang selama ini kuat ditanamkan di otak digoyahkan oleh kondisi yang dihadapi di depan mata. Contoh simple ketika anak sakit panas, simple kan? Secara teori kalo anak demam itu adalah proses wajar karena imun tubuh sedang melawan bakteri, sehingga suhu tubuh panas diperlukan agar bakteri atau virus tidak bisa berkembang. IDEAL nya adalah tunggu saja sampai panas itu turun sendiri, kompres, pakaikan baju tipis dan kondisikan ruangan bersuhu sejuk (tidak terlalu panas ataupun dingin), tidak perlu obat penurun panas karena pada dasarnya itu tidak diperlukan. Penurun panas hanya mengacaukan tubuh untuk mengenali adanya bakteri atau virus dan bla bla bla. Nyatanya apa? Ibu mana sih yang tahan lihat anaknya sakit? demam lemes dan ga mau makan? pas mau kasi penurun panas galau ga ketulungan karena takut dianggap ga RUM, takut dijudge ibu lain karena ga sesuai teori. Sampai kadang lupa sih RUM itu apa, karena pengen anaknya terhindar dari obat apapun.

Contoh lain untuk hal anak makan. Ini sebenernya panjang sih, bisa sampai Raja Firaun bangkit dari kuburpun ga abis dibahas. Idealnya sih anak makan makanan mpasi homemade, no gulgar dan duduk manis di highchair. Makan less than 15 minutes, atau lebih ajaib lagi anaknya bisa BLW. Kayanya kalo semua anak di dunia ini begitu, jadi ibu ga ada sensasinya deh :p . Nah, dalam realitanya horor bernama GTM itu selalu menghantui ibu-ibu. Ada sih anak yang selalu makan makanan homemade ada juga yang satu dan lain hal membuat si anak cuma bisa makan makanan instan (either karena bosan atau keadaan kepepet). Tapi karena adanya ‘mata’ yang selalu menatap tajam dan menyoroti setiap gerakan anak kita, kita jadi ngerasa berdosa banget. Takut ga dianggap ga sealiran, ga idealis lagi.

Momen-momen kebersamaan dengan anak itu kan ga keulang. Jadi kalo selalu ‘spaneng’ sesuai teori, sesuai kata si A kata si B kayanya kok ga menikmati banget ya. Guepun dulu sempet masuk ke dalam ‘arus’ yang bikin stres ini. Sampai akhirnya ngeliat temen gue yang sangaaaaat enjoy menikmati momen-momen sama anaknya. Kuncinya emang harus bisa cuek ke komentar remah-remah rempeyek orang lain. Pilah pilih temen juga penting agar yang masuk ke otak ini bisa juga nyaman di hati.

Namanya menjadi Ibu itu ya proses belajar, even uda anak kedua ketiga keempat dst tetep blajar hal baru lagi karena setiap anak itu unik. Jadi jangan merasa juga si ini anaknya uda sembilan berarti apa yang dia bilang bener dong, ga juga sih. Anak dia kan beda sama anak kita🙂 .

So stop lah membandingkan cara pengasuhan anak satu dengan yang lainnya. Percaya deh ga ada kok ibu waras yang kasi anaknya racun. Oke buibu mariii kita fokus sama anak kita saja ya, cian kalo kita cuekin hanya karena sibuk ngurusin anak orang🙂 . Last but not least, thanks to The Urban Mama yang sudah mempertemukan gue dengan buibu yang bisa sedikit ‘mewaraskan’ otak dari hal-hal negatif berlabel ‘Parenting’🙂 .

 

4 thoughts on “Let’s Love More and Judge Less

  1. Arman says:

    as much as the problem adalah orang2 yang suka nge-judge orang lain, tapi yang juga jadi problem besar sebenernya adalah orang2 yang suka banget ngedengerin orang lain ngomong apa tentang mereka.

    give and take. supply and demand.

    sebenernya kan bukan masalah orang lain nge-judge kita, tapi kita nya mau di judge apa gak sama mereka? kita gak bisa ngelarang orang mau ngomong apa, tapi yang kita bisa lakukan adalah kontrol supaya ktia gak perlu ngedengerin orang2 nge-judge kita apa.🙂

    jadi daripada menyerukan supaya orang (lain) jangan nge-judge, mendingan kita menyerukan supaya diri sendiri jangan peduli sama judgement orang.😀

    just my two cents.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s